Welcome to Pear'L Corner' Selamat datang di Pear'L Corner 'Selamat datang di Pear'L Corner 'Welcome to Pear'L Corner ' Welcome to Pear'L Corner'selamat datang Pear'L Corner 'Welcome to Pear'L Corner'selamat datang Pear'L Corner' Sudut Hati : Mappasitinaja dalam Kepemimpinan Bugis

Translate

Tuesday, September 3, 2013

Mappasitinaja dalam Kepemimpinan Bugis

Dalam kepustakaan bugis makassar banyak di temukan kisah tentang nilai dan norma Kepemimpinan  yaitu nilai mappasitinaja  (kepatutan) yang mengadung makna : pantas, wajar dan patut: dikatakan bahwa " Ripariajanggi ri ajannge, riparia alaui alau’E, Riparimanianngi maniannge, Ripariasei ri ase’E, Ripariawai riawa’e " (ditempatkan dibarat yang dibarat, ditempatkan ditimur yang ditimur, ditempatkan diselatan yang diselatan, ditempatlkan diatas yang diatas dan ditempatkan dibawah yang dibawah) maknanya bahwa segala sesuatu ditempatkan sesuai dengan kewajaran, kepantasan dan kepatutan. Oleh karen itu dalam manajemen SDM,  kewajaran , kepantasan, kepatutan karena beradasarkan kapasitas dan komptetnsi yang mereka miliki sangat dihargai. Seseorang dikatakan bertindak patut atau wajar apabila mampu menempatkan sesuatu pada tempatnya, menempatkan sesuatu sesuai dengan kedudukannya, tidak menyerakahi/melanggar hak2 orang lain, mampu menempatkan orang lain pada tempatnya sesuai dengan haknya yang patut dihormati. Nilai mappasitinaja sangat mendukung sistem birokrasi yang baik, dengan dijunjung tingginya nilai ini maka menjadi rem bagi berkembangnya sistem Kolusi, Korupsi dan Nepotisme dalam manajemen sumber daya manusia birokrasi.
Salah satu diantaranya adalah kisah tentang Lamanussa Toakkarangeng menjadi Datu Soppeng, orang Soppeng pernah hampir kelaparan karena kemarau panjang. Beliau menyelidiki penyebab bencana kelaparan itu, tetapi tak ada seorang pejabat kerajaan pun yang me­lakukan perbuatan sewenang-wenang. Setelah beliau merenung, beliau meng­ingat bahwa beliau pernah memungut suatu barang di sawah seorang pendu­duk dan disimpannya di rumahnya sendiri. Perbuatan beliau inilah yang menu­rutnya menyebabkan mala petaka itu, pikir beliau. Beliau mengambil keputusan untuk menjatuhkan hukuman kepada dirinya sendiri karena tidak ada orang pun yang berani menjatuhkan hukuman kepada diri sang Datu. Hukuman yang dijatuhkan kepada dirinya sendiri adalah berupa denda, yaitu beliau memotong kerbau dan dagingnya dibagikan kepada rakyat. Di hadapan rakyatnya, beliau menyatakan dirinya bersalah karena telah memungut suatu barang dari sawah seseorang dan menyimpannya sendiri. Beliau mengumumkan barang tersebut di tengah pesta tudang sipulung (duduk bersama), tetapi tak seorang pun yang mengaku telah kehilangan sesuatu.
Selanjutnya kisah tentang  Nene Mallomo   yang  berusaha menerapkan good governance dalam kepemimpinannya yang pernah merwarnai pemerintahan salah satu daerah di sulawesi selatan. Pada abad ke XVI di Sidenreng Rappang, La Pagala Nene Mallomo Seorang hakim (Pabiccara) menjatuhkan hukuman kepada putranya sendiri yang amat dicintainya karena telah terbukti mengambil sebatang kayu kecil orang lain tanpa seizin  dengan pemiliknya, yang  menurut pendapat orang perbuatan itu telah menyebabkan terjadinya kemarau panjang sehingga terjadinya gagal panen walaupun nilainya sangat kecil tapi mengambilnya tanpa seizin yang punya dan dilakukan oleh keluarga orang yang seharusnya member keteladanan. Tentu kejadian ini mencoreng muka ayahnya yang dikenal hakim yang jujur. Ketika dia ditanya kenapa menghukum putranya sendiri dan apakah dia menilai sepotong kayu sama dengan hukuman yang ditimpakan kepada putranya. Beliau menjawab: “Ade’E temmakeana’ Temmakke Eppo” Hukum tidak mengenal anak dan tidak mengenal cucu” keadilan harus ditegakkan.
Mengenai sikap ini Puang Rimaggalatung pernah berkali-kali menolak tawaran adat (para wakil rakyat) dan rakyat wajo untuk diangkat menjadi Arung Matoa Wajo atas kematian Batara Wajo III yang bernama La Pateddungi Tosamallangi, tapi karena  Adat (para wakil rakyat) serta rakyat mengaggap beliau mempunyai kapasitas dan kompetensi serta pantas memimpin mereka, maka adat dan rakyat terus  berusaha untuk mengangkat beliau sebagai Raja dan pada akhirnya tawaran itu di terima beliau, Dalam lontarak di katakan: Aja Muangoai Onrong, Aja'to muacinnai Tanre tudangeng, de; tu mullei padecengi tana, Risappapo mu'ompo, rijellopo muompo.(jangan serakahi kedudukan, jangan pula terlalu menginingkan kedudukan tinggi, jangan sampai kamu tidak bisa memperbaiki negeri, bila dicari barulah muncul, bila ditunjuk barulah mengia).

No comments:

Post a Comment